Jumat, 26 Juni 2009

Dampak Negatif Reklamasi Lahan Gambut

Lahan gambut di Indonesia sebagian besar telah direklamasi. Reklamasi adalah pengalihfungsian lahan agar lebih bernilai ekonomis misalnya menjadi pemukiman, sawah dan lain-lain. Pada tanggal 8 Juni 2009, kami melakukan observasi langsung lahan gambut yang telah direklamasi berlokasi di lahan gambut Km 17, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Dilokasi observasi flora yang hdup tampak sangat minim dengan variasi yang terbatas.
Berdasarkan hasil observasi, tanaman obat yang teridentifikasi antara lain: Kelakai antioksidan dan penambah darah, kangkung untuk anti insomnia, karamunting untuk antidiabetes, teratai untuk menurunkan tekanan darah dan peluruh kencing dan lain-lain. Tanaman tanaman ini dapat digunakan sebagai tanaman obat. Akan tetapi, reklamasi lahan gambut banyak membawa perubahan pada air, kandungan tanah maupun langsung pada tanaman-tanaman tersebut.

Reklamasi lahan gambut selain berdampak negatif pada lingkungan juga berdampak negatif pada kesehatan diantaranya:
Reklamasi biasanya diawali dengan pembakaran lahan gambut
Asap pada pembakaran dapat menyebabkan berbagai gangguan pernapasan seperti ISPA, sesak napas, dan lain-lain.

Pengalihfungsian lahan menjadi pemukiman
Pengalihfungsian ini dapat menganggu habitat nyamuk. Akibatnya, nyamuk bermigrasi ke pemukiman penduduk sehingga wabah penyakit seperti malaria, demam berdarah, dan penyakit dengan perantara nyamuk lainnya akan menjangkiti penduduk. Sebenarnya secara alami perkembangbiakan nyamuk dikontrol oleh keberadaan ikan khas lahan gambut yang memakan jentik-jentik naymuk. Akan tetapi perubahan ekosistem juga mengganggu populasi ikan tersebut sehingga populasi nyamuk semakin meningkat.
Kondisi seperti ini arus segera diatasi karena selain membahayakan kesehatan dan lingkungan juga membahayakan flora dan fauna yang hidup pada lahan tersebut. Perlu kerja sama dari berbagi pihak diantaranya:
Pemerintah agar lebih bersikap tegas dan arif dalam mengelola lahan gambut
Kesadaran Masyarakat Sekitar
Para pengusaha agar lebih bertanggung jawab pada lingkungan
Rehabilitasi lahan gambut
Mengadakan eksplorasi dan budidaya flora dan fauna

Daerah Tangkapan Air Kritis Tanaman Obat Terancam Punah

Di Indonesia, banyak daerah tangkapan air telah mengalami kerusahttp://www.blogger.com/img/blank.gifkan bahkan telah kitis. Salah satunya daerah tangkapan air yang ada di Pelaihari, Kalimantan Selatan.
Dari hasil observasi yang kami lakukan pada tanggal 9 Juni 2009 berlokasi di daerah tangkapan air, damit, dapat disimpulkan bahwa daerah tangkapan airnya cukup buruk. Hal ini dapat dilihat dari keadaan hutan sekitar yang sebagian besar telah gundul bahkan sumber daya tanah telah banyak dieksplorasi. Akibatnya, pada saat pasokan air menurun dapat terjadi kekeringan sedangkan pada saat pasokan air berlebih dapat terjadi banjir akibat bendungan jebol.

Kondisi lingkungan yang berubah dapat merubah kandungan kimia tanah dan hal-hal lain yang mempengaruhi tumbuhnya tanaman khas daerah tersebut terutama tanaman yang dapat digunakan sebagai tanaman obat. Misalnya saja Berdasarkan observasi yang kami lakukan, didapatkan hasil pHair daerah damit adalah sekitar 8-9. Hasil ini menunjukkan air di daerah ini cenderung bersifat basa. Sedangkan pHtanah daerah damit sekitar 5-6. Hasil ini menunjukkan tanah di daerah ini cenderung bersifat asam. Selain itu, banjir besar akibat jebolnya bendungan dapat merusak tanaman waga dan tanaman obat tesebut. Hal ini akan sangat berpengauh pada keselamatan tanaman obat.
Berdasarkan obsevasi yang kami lakukan, terdapat berbagai jenis tanaman obat diantaranya
Kelakai (Stenochlaena palustris)
Domain: Eukaryota () - Whittaker & Margulis,1978
Kingdom: Plantae () - Haeckel, 1866 - Plants
Subkingdom: Viridaeplantae () - Cavalier-Smith, 1981
Division : Pteridophyta
Phylum: Tracheophyta () - Sinnott, 1935 Ex Cavalier-Smith, 1998 - Vascular Plants
Subphylum: Euphyllophytina ()
Infraphylum: Moniliformopses () - Kenrick & Crane, 1997, Nom. Nud.
Class: Filicopsida () - Cronquist Et Al.
Order: Filicales () - Link
Family: Blechnaceae () - (C. Presl, 1851) Copeland, 1947 - Chain Fern Family
Tribe: Narcisseae ()
Genus: Stenochlaena () - Linnaeus, 1753
Specific epithet: palustris - (Burm.) Bedd.
Botanical name: - Stenochlaena palustris (Burm.) Bedd.
Tanaman jenis paku-pakuan ini diketemukan di daerah rawa di Desa Tungkaran ini. Habitat tanaman kelakai ini memang di daerah yang basah dan tergenang. Tanaman ini memiliki sistem perakaran serabut dan cara penyebaran dengan tunas dan sulur serta spora. Tanaman cukup mudah berkembang dan bila dibiarkan akan menutupi area yang cukup luas.
Tanaman ini memiliki banyak khasiat, seperti antidiare. Selain itu, juga dipercayai oleh masyarakat Dayak sebagai obat penambah darah serta obat awet muda. Tidak lupa juga, pucuk muda kelakai ini adalah bahan masakan yang cukup lezat dan di kalangan penduduk asli kalimantan merupakan salah satu makanan favorit (oseng kelakai contohnya).
Menariknya, tumbuhan yang kerap dijadikan sayur itu memiliki manfaat unik. Kalakai ternyata dapat menunda proses penuaan manusia. Berdasarkan studi empirik, diketahui bahwa kalakai dipergunakan oleh masyarakat suku Dayak Kenyah untuk mengobati anemia, pereda demam, mengobati sakit kulit, serta sebagai obat awet muda. Wongso Kesuma, mahasiswa Fakultas Kedokteran Unlam tertarik melakukan penelitian kandungan zat pada kalakai yang merupakan jenis tanaman jenis paku-pakuan, apalagi diyakini sebagai obat awet muda.
Dari hasil penelitian, Wongso mendapatkan bahwa kandungan zat bioaktif kalakai di daun adalah flavonoid sebesar 1,750 persen, streroid sebesar 1,650 persen, dan alkaloid sebesar 1,085 persen. Sementara di batang, ternyata kalakai mengandung flavonoid sebesar 3,010 persen, steroid sebesar 2,583 persen dan alkaloid sebesar 3,817 persen.
Dari serangkaian penelitian yang dilakukan, ia menyimpulkan bahwa kalakai mengandung zat bioaktif yang bersifat seperti anti oksidan seperti vitamin C, vitamin A, dan flavonoid. Zat bioaktif tersebut bekerja secara sinergis dengan makanisme antara lain dengan mengikat ion logam, radikal hidroksin dan oksigen singlet sebagai penghambat penuaan.

Rumput kremason
Rumput kremason yang bisa digunakan sebagai balsem untuk mengobati penyakit pada tubuh seperti keseleo, masuk angin,
Terlalu disayangkan jika tanaman obat yang bekhasiat ini menjadi punah.
Adapun mengenai tingkat kesehatan masyarakat, berdasarkan hasil wawancara dengan penduduk sekitar didapatkan data bahwa penyakit yang biasa dialami penduduk antara lain penyakit dibawa oleh nyamuk seperti demam berdarah dan malaria, penyakit saluran pencernaan seperti diare, disentri dan lain-lain, penyakit kulit seperti gatal-gatal. Adapun untuk pelayanan kesehatan di daerah ini sudah cukup baik salah satunya adanya fasilitas puskesmas keliling. Akan tetapi hal ini belum cukup, dipelukan hal yang lebih misalnya saja dengan keberadaan tanaman obat dan wawasan masyarakat terhadap tanamn obat menjadi salah satu hal yang penting. Selain itu eksplorasi tanaman obat yang betanggung jawab pada lingkungan juga mendatangkan nilai ekonomis bagi seoang farmasis dan masyarakat sekitar (menambah lapangan pekerjaan).
Untuk mengatasi masalah tesebut, Pada daerah damit ditanam tumbuhan yang bukan hanya bemanfaat sebagai penahan air saja tetapi juga benilai ekonomis seperti adanya perkebunan karet. Adapun sebagai tanaman utama ditanam padi hal ini juga dapat membuat keuntungan. Selain itu juga banyak lagi tanaman-tanaman lain yang ditanam disana seperti pare, pohon pisang dan lain-lain.

Usaha ini belum cukup untuk menyelamatkan lingkungan, dipelukan dukungan dari seluruh pihak, baik itu pemeintah, masyarakat sekitar maupun pihak-pihak lain seperti para pengusaha agar lebih bertanggung jawab, juga para cendikia yang menguasai ilmu tertentu mengenai lingkungan baik secara fisik, biologis maupun kimiawi. Untuk tanaman obat, diperlukan farmasis-farmasis masa depan yang kreatif dan arif dalam mengeksplorasi tanaman obat untuk kepentingan dan kesejahteraan masyarakat juga dukungan dari cabang keilmuwan yang lain.

Rabu, 24 Juni 2009

Abrasi Pantai Berdampak pada Penurunan Kualitas Kesehatan Masyarakat

Wilayah pesisir adalah suatu jalur saling pengaruh antara darat dan laut, yang memiliki ciri geosfer yang khusus, kearah darat dibatasi oleh pengaruh sifat-sifat fisik laut dan sosial ekonomi bahari, sedangkan ke arah laut dibatasi oleh proses alami serta akibat kegiatan manusia terhadap lingkungan di darat.Manfaat ekosistem pantai sangat banyak, namun demikian tidak terlepas dari permasalahan lingkungan, sebagai akibat dari pemanfaatan sumber daya alam di wilayah pantai. Permasalahan lingkungan yang sering terjadi di wilayah perairan pantai, adalah pencemaran, erosi pantai, banjir, inturusi air laut, penurunan biodiversitas pada ekosistem mangrove dan rawa, serta permasalahan sosial ekonomi.
Rawa pesisir merupakan salah satu objek observasi yang kami lakukan pada tanggal 8-10 Juni 2009. Kegiatan observasi rawa pesisir dilaksanakan pad tanggal 8 Juni 2009 berlokasi di pantai Desa Pagatan Besar, Pelaihari, Kalimantan Selatan.Dari hasil observasi, dapat disimpulkan bahwa kondisi pantai kurang terawat dengan baik. Air lautnya juga berwarna keruh akibat sedimentasi lumpur yang berasal dari muara sungai. Hal ini disebabkan aktivitas penggundulan hutan sehingga tanah yang harusnya ditahan oleh pepohonan ikut terbawa air hujan menuju sungai hingga akhirnya mencemari laut. Air laut ini juga diperkirakan telah dicemari logam berat dan pencemar lain yang berasal dari industri-industri disekitar kawasan pantai.

Kerusakan lingkungan pesisir ini tampak dari kondisi bibir pantai yang telah mengalami abrasi yang cukup berat. Abrasi pantai adalah pengikisan daratan akibat gelombang laut ataupun arus pasang surut. Abrasi menyebabkan intrusi air laut ke sumber-sumber air masyarakat sekitar. Hal ini akan mempengaruhi salinitas dan sanitasi sumber-sumber air tersebutn yang tentunya akan berdampak pada penurunan kualitas kesehatan masyarakat. Salinitas sumber-sumber air meningkat. Selain itu, air laut yang tercemar limbah industri juga dapat mencemari sumber-sumber air tersebut.

Berdasarkan observasi didapat pH tanah pada stasiun 1 sekitar 6,8, stasiun 2 sekitar 5,2 dan pada stasiun 3 sekitar 5,6. Kelembapan tanah pada stasiun 1 sekitar 15 %, Kelembapan tanah pada stasiun 2 sekitar >100 %, dan Kelembapan tanah pada stasiun 3 sekitar >100 %. Flora pada stasiun 1 tanaman api-api dominan, tanaman jinggah tidak dominan, tanaman buta-buta tidak dominan, pada stasiun 2 tanaman api-api dominan, tanaman jinggah tidak dominan, tanaman buta-buta tidak dominan, pada stasiun 3 tanaman api-api tidak ada, tanaman jinggah tidak ada, tanaman buta-buta tidak dominan. Kondisi tanah ketiga stasiun berlumpur.
Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat sekitar, didapatkan informasi yang sering timbul, diantaranya:
Penyakit Saluran Pencernaan
Walaupun masyarakat mengaku jarang bahkan hampir tidak pernah mengonsumsi air yang berasal dari sumber-sumber air seperti sumur sebagai air minum, menurut sebagian besar keterangan masyarakatmenunjukkan bahwa penyakit-penyakit saluran pencernaan seperti sakit perut, diare, disentri dan lain-lain adalah penyakit yang biasa dialami masyarakat. Kemungkinan besar hal ini disebabkan pengonsumsian air dengan sanitasi yang buruk.
Penyakit Kulit
Sumber-sumber air biasanya digunakan keperluan masyarakat untuk keperluan mandi dan mencuci. Penggunaan sumber air yang telah dicemari air laut yang membawa limbah pencemar dapat saj menjadi penyebab penyakit kulit ini.
Selain penyakit-penyakit di atas, walaupun tak sering terjadi tetapi adapula indikasi gangguan fungsi ginjal. Hal ini juga kemungkinan disebabkan pencemaran sumber-sumber air masyarakat.
Berdasarkan hasil wawancara, sebagian besar masyarakat kurang tahu mengenai tanaman obat di daerah tersebut. Hal in I disayangkan padahal cukup banyak tanamn obat yang dapat di eksplorasi terutama sebagai toga. Misalnya saja jambu biji sebagai obat diare. Adapula tanaman yang berkhasiat sebagai obat kencing manis. Sayangnya, warga yang memberitahukan informasi ini kurang tahu namanya.
Abrasi pantai dapat berbahaya bagi kesehatan baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu perlu dilakukan tindakan nyata untuk mencegah abrasi yang lebih parah, diantaranya:
Penanaman tanaman seperti mangrove atau tanaman api-api di bibir pantai
Pada daerah Pantai Pagatan Besar ini, tanaman api-api jauh lebih cocok ditanam daripada mangrove karena daerah ini didominasi lumpur sehingga tanaman mangrove kurang mampu bertahan hidup sedangkan tanaman api-api dapat hidup dengan baik dengan kondisi berlumpur tersebut.

Pembuatan siring
Ombak yang besar dapat menghanyutkan atau paling tidak merusak tanamn yang ditanam di bibir pantai. Oleh karena itu, perlu dibuat siring sebagai pemecah ombak.
Pengembangbiakan Terumbu Karang
Pengurangan Aktivitas eksploitasi Hutan

Aktivitas eksploitasi hutan yang berlebihan dan tidak bertanggung jawab menyebabkan terjadinya sedimentasi lumpur di laut. Akibatnya, terumbu karang dan biota laut tertentu tidak dapt bertahan hidup.

Selasa, 24 Maret 2009

Tahukah Kamu?


Biasanya serangga mencicipi makanan dengan mulutnya. hal yang bebeda dilakukan lebah madu. madu menjulurkan dan menempelkan kakinya ke dasar bunga untuk mencicipi sari bunga. Lebah madu memiliki keranjang kecil di kaki belakangnya. di kaki-kakinya juga terdapat rambut-rambut sikat dikakinya untuk menyapu serbuk sari bunga ke tampungan keranjang kaki belakangnya. lalu ia kembali ke sarang dan menumpuk serbuk sari untuk memberi makan bayi-bayi lebah.

Senin, 23 Maret 2009

Tugas Lahan Basah


Lahan basah menurut Konvensi Ramsar merupakan definisi yang luas yaitu daerah-daerah rawa, payau, lahan gambut dan perairan; alami atau buatan; tetap atau sementara; dengan air tergenang atau mengalir; tawar, payau atau asin; termasuk perairan laut yang kedalamanya tidak lebih dari 6 meter diwaktu air surut. Definisi tersebut mencakup terumbu karang dan padang lamun didaerah pesisir, dataran lumpur, hutan bakau, muara, sungai, rawa air tawar, hutan rawa dan danau serta rawa dan danau bergaram. Definisi yang sempit umumnya menganggap lahan basah sebagai ekoton yaitu daerah peralihan antara lingkungan daratan dengan lingkungan perairan dimana tanah yang tergenang atau jenuh air, menyebabkan berkembangnya suatu vegetasi yang khas.

Di Kalimantan sendiri hampir 1/3 luas daerah adalah daerah rawa. baik itu rawa hutan air tawar, rawa pasang surut, rawa gambut, dan jenis rawa lainnya. Akan tetapi kebanyakan dari lahan basah ini tidak dialihfungsikan dengan baik sehingga hasilnya kurang malsimal bahkan terkadang berakibat buruk bagi ekosistem. Salah satunya adalah lahan basah yang kami kunjungi unuk final project yang berlokasi di desa Tungkaran Kec. Martapura dengan koordinat 3023'55,75"S, 114049'32,5"E. Lahan basah di lokasi ini berupa rawa pasang surut tanpa hutan, yaitu rawa berair tawar mengalir yang didominasi semak dan rumput liar.

Lahan basah di Desa Tungkaran di dominasi oleh tumbuhan enceng gondok. Walaupun hampir seluruh bagian lahan basah ditumbuhi oleh enceng gondok, juga terdapat jenis tumbuhan lain rumput liar seperti ilalang, purun tikus yang berpadu dengan enceng gondok, adapun meniran, putri malu hanya tumbuh dipinggiran lahan basah tidak masuk ke dalam air. Adapun tumbuhan air lainnya adalah kangkung, apu-apu dan jenis bunga, teratai. Ditemukan pula tanaman jenis paku-pakuan (Pteridophyta), kalakai dalam jumlah kecil. selain tanaman semak dan rumput liar, juga terdapat tumbuhan berkayu seperti jambu biji. Berdasarkan pengamatan hewan yang tampak antara lain serangga (insecta) yaitu belalang, kupu-kupu, lebah, laba-laba; jenis ikan (pisces) yaitu sepat, sepat siam, gabus, seluang; dan jenis mollusca yaitu siput, sedangkan untuk hewan-hewan rawa seperti ular(reptilia) dan katak(amphibia) tidak tampak akan tetapi kemungkinan hewan ini memang ada.

Sebagian besar lahan basah telah dialihfungsikan menjadi pemukiman penduduk dan pertanian. Menurut keterangan warga ketika air di lahan basah surut tumbuhan liarnya akan di tebas untuk kemudian ditanami padi. Beberapa warga sekitar juga mengunakan lahan basah ini sebagai tempat pemancingan serta menggunakan enceng gondok ataupun purun tikus untuk membuat kerajinan. Adapula warga yang menggunakan lahan basah unuk tambak dan irigasi. Kehidupan warga sekitar yang cukup alami mendukung kelangsungan lahan basah. Sayangnya, adanya sampah yang dibuang di daerah lahan basah ini. Alih fungsi lahan basah ini tidak terkelola dengan baik, banyak manfaat lahan basah dan flora fauna yang tersia-siakan. sangat berbeda dengan lahan-lahan basah di negara-negara maju yang terkelola dengan baik. Hasil yang didapatpun maksimal. Setiap potensi lahan basah digali sebanyak-banyaknya unutk kesejahteraan umat manusia tetapi tetap mempertahankan ekologi. Pada kenyataannya, untuk negara berkembang terutama di daerah-daerah seperti lahan basah Tungkaran memang sulit untuk dilakukan penggalian potensi lahan basah secara optimal disebabkan karena tingkat pendidikan warga sekitar yang masih rendah dan kurangnya orang berkualitas yang imaginatif dikalangan akademisi untuk melihat potensi yang terkandung dalam suatu ekosistem lahan basah. salah satu potensi yang terdapat di lahan basah desa Tungkaran ini adalah flora dan faunanya dalam bidang farmasi dan kedokteran, diantaranya enceng gondok, kankung, teratai, dan beberapa tumbuhan yang dapat digunakan menjadi tanaman obat serta penelitian terhadap penyakit yang mungkin timbul di sekitar daerah lahan basah. kedua hal ini memiliki nilai ekonomis ini jauh lebih tinggi daripada hanya memanfaatkan lahan basah sebagai pemukiman dan pertanian. berikut beberapa tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai tanaman obat da manfaat ekonomis lainnya

Enceng Gondok

Enceng gondok atau enceng gondok (Latin:Eichhornia crassipes) adalah salah satu jenis tumbuhan air mengapung. Selain dikenal dengan nama eceng gondok, di beberapa daerah di Indonesia, eceng gondok mempunyai nama lain seperti di daerah Palembang dikenal dengan nama Kelipuk, di Lampung dikenal dengan nama Ringgak, di Dayak dikenal dengan nama Ilung-ilung, di Manado dikenal dengan nama Tumpe.[1] Eceng gondok pertama kali ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang ilmuan bernama Carl Friedrich Philipp von Martius, seorang ahli botani berkebangsaan Jerman pada tahun 1824 ketika sedang melakukan ekspedisi di Sungai Amazon Brasil.[2] Eceng gondok memiliki kecepatan tumbuh yang tinggi sehingga tumbuhan ini dianggap sebagai gulma yang dapat merusak lingkungan perairan. Eceng gondok dengan mudah menyebar melalui saluran air ke badan air lainnya.
Deskripsi
Eceng gondok hidup mengapung di air dan kadang-kadang berakar dalam tanah. Tingginya sekitar 0,4 - 0,8 meter. Tidak mempunyai batang. Daunnya tunggal dan berbentuk oval. Ujung dan pangkalnya meruncing, pangkal tangkai daun menggelembung. Permukaan daunnya licin dan berwarna hijau. Bunganya termasuk bunga majemuk, berbentuk bulir, kelopaknya berbentuk tabung. Bijinya berbentuk bulat dan berwarna hitam. Buahnya kotak beruang tiga dan berwarna hijau. Akarnya merupakan akar serabut.[1]
Habitat
Eceng gondok tumbuh di kolam-kolam dangkal, tanah basah dan rawa, aliran air yang lambat, danau, tempat penampungan air dan sungai. Tumbuhan ini dapat mentolerir perubahan yang ektrim dari ketinggian air, laju air, dan perubahan ketersediaan nutrien, pH, temperatur dan racun-racun dalam air.[3] Pertumbuhan eceng gondok yang cepat terutama disebabkan oleh air yang mengandung nutrien yang tinggi, terutama yang kaya akan nitrogen, fosfat dan potasium (Laporan FAO). Kandungan garam dapat menghambat pertumbuhan eceng gondok seperti yang terjadi pada danau-danau di daerah pantai Afrika Barat, di mana eceng gondok akan bertambah sepanjang musim hujan dan berkurang saat kandungan garam naik pada musim kemarau.[3]
Dampak Negatif
Akibat-akibat negatif yang ditimbulkan eceng gondok antara lain:
• Meningkatnya evapotranspirasi (penguapan dan hilangnya air melalui daun-daun tanaman), karena daun-daunnya yang lebar dan serta pertumbuhannya yang cepat.
• Menurunnya jumlah cahaya yang masuk kedalam perairan sehingga menyebabkan menurunnya tingkat kelarutan oksigen dalam air (DO: Dissolved Oxygens).
• Tumbuhan eceng gondok yang sudah mati akan turun ke dasar perairan sehingga mempercepat terjadinya proses pendangkalan.
• Mengganggu lalu lintas (transportasi) air, khususnya bagi masyarakat yang kehidupannya masih tergantung dari sungai seperti di pedalaman Kalimantan dan beberapa daerah lainnya.
• Meningkatnya habitat bagi vektor penyakit pada manusia.
• Menurunkan nilai estetika lingkungan perairan.
Penanggulangan
Karena eceng gondok dianggap sebagai gulma yang mengganggu maka berbagai cara dilakukan untuk menanggulanginya. Tindakan-tindakan yang dilakukan untuk mengatasinya antara lain:
• Menggunakan herbisida
• Mengangkat eceng gondok tersebut secara langsung dari lingkungan perairan
• Menggunakan predator (hewan sebagai pemakan eceng gondok), salah satunya adalah dengan menggunakan ikan grass carp (Ctenopharyngodon idella) atau ikan koan. Ikan grass carp memakan akar eceng gondok, sehingga keseimbangan gulma di permukaan air hilang, daunnya menyentuh permukaan air sehingga terjadi dekomposisi dan kemudian dimakan ikan. Cara ini pernah dilakukan di danau Kerinci dan berhasil mengatasi eceng gondok di danau tersebut.[4]
• Memanfaatkan eceng gondok tersebut, misalnya sebagai bahan pembuatan kertas, kompos, biogas[5], perabotan[6], kerajinan tangan, sebagai media pertumbuhan bagi jamur merang, dsb.
Penangkap Polutan Logam Berat
Walaupun eceng gondok dianggap sebagai gulma di perairan, tetapi sebenarnya ia berperan dalam menangkap polutan logam berat. Rangkaian penelitian seputar kemampuan eceng gondok oleh peneliti Indonesia antara lain oleh Widyanto dan Susilo (1977) yang melaporkan dalam waktu 24 jam eceng gondok mampu menyerap logam kadmium (Cd), merkuri (Hg), dan nikel (Ni), masing- masing sebesar 1,35 mg/g, 1,77 mg/g, dan 1,16 mg/g bila logam itu tak bercampur. Eceng gondok juga menyerap Cd 1,23 mg/g, Hg 1,88 mg/g dan Ni 0,35 mg/g berat kering apabila logam-logam itu berada dalam keadaan tercampur dengan logam lain. Lubis dan Sofyan (1986) menyimpulkan logam chrom (Cr) dapat diserap oleh eceng gondok secara maksimal pada pH 7. Dalam penelitiannya, logam Cr semula berkadar 15 ppm turun hingga 51,85 persen.[7]Selain dapat menyerap logam berat, eceng gondok dilaporkan juga mampu menyerap residu pestisida. Sebagai tanaman obat Tangkai daun enceng gondok dimanfaatkan untuk obat bengkak-bengkak. karena penelitian yang masih minim tentang penggunaan enceng gondok sebagai obat sehingga hanya sedikit fungsi yang diketahui.
http://id.wikipedia.org/wiki/Eceng_gondok

Jambu Biji
Selain memerlukan asupan gizi (protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral) untuk menunjang kehidupan dan kesehatan sehari-hari, tubuh kita juga memerlukan kandungan zat aktif dalam pangan fungsional. Zat aktif tersebut antara lain antioksidan dalam asam asorbat, karoten, dan anthocyanin, serta serat pangan dalam bentuk pektin. Di antara buah dan sayuran, ternyata jambu biji dan buah naga menempati peringkat teratas sebagai buah penyedia manfaat dari pangan fungsional. Jambu biji bagian daunnya untuk diare, juga sebgai anti oksidan dan antikanker.
http://www.unika.ac.id/pasca/pmtp/?p=5

Kangkung

Kangkung (Ipomoea aquatica Forsk.), juga dikenal sebagai Ipomoea reptans Poir1. merupakan sejenis tumbuhan yang termasuk jenis sayur-sayuran dan di tanam sebagai makanan. Kangkung banyak dijual di pasar-pasar. Kangkung banyak terdapat di kawasan Asia dan merupakan tumbuhan yang dapat dijumpai hampir di mana-mana terutama di kawasan berair.

Gambaran

Kangkung mempunyai daun yang licin dan berbentuk mata panah, sepanjang 5-6 inci. Tumbuhan ini memiliki batang yang menjalar dengan daun berselang dan batang yang menegak pada pangkal daun. Tumbuhan ini bewarna hijau pucat dan menghasilkan bunga bewarna putih, yang menghasilkan kantung yang mengandung empat biji benih. Terdapat juga jenis daun lebar dan daun tirus.

Penanaman

Ada dua jenis penanaman diusahakan: kering dan basah. Dalam keduanya, sejumlah besar bahan organik (kompos) dan air diperlukan agar tanaman ini dapat tumbuh dengan subur. Dalam penanaman kering, kangkung ditanam pada jarak 5 inci pada batas dan ditunjang dengan kayu sangga. Kangkung dapat ditanam dari biji benih atau keratan akar. Ia sering ditanam pada semaian sebelum dipindahkan di kebun. Daun kangkung dapat dipanen setelah 6 minggu ia ditanam.
Seikat daun kangkung.

Jika penanaman basah digunakan, potongan sepanjang 12-inci ditanam dalam lumpur dan dibiarkan basah. Semasa kangkung tumbuh, kawasan basah ditenggelami pada tahap 6 inci dan aliran air perlahan digunakan. Aliran air ini kemudian dihentikan apabila tanah harus digemburkan. Panen dapat dilakukan 30 hari setelah penanaman. Apabila pucuk tanaman dipetik, cabang dari tepi daun akan tumbuh lagi dan dapat dipanen setiap 7-10 hari. Semasa berbunga, pucuk kangkung tumbuh dengan lambat, tetapi

Kegunaan

Menurut Dr. Setiawan, kangkung mempunyai rasa manis, tawar, sejuk. Sifat tanaman ini masuk ke dalam meridian usus dan lambung. Efek farmakologis tanaman ini sebagai antiracun (antitoksik), anti radang, peluruh kencing (diuretik), menghentikan perdarahan (hemostatik), sedatif (obat tidur). Kangkung juga bersifat menyejukkan dan menenangkan.Tanaman bernama daerah kangkueng (Sumatera), pang pung (Nusa Tenggara), kangko (Sulawesi),utangko (Maluku) ini enak rasanya dan memiliki kandungan gizi cukup tinggi. Selain vitamin A, B1, dan C, juga mengandung protein, kalsium, fosfor, besi, karoten, hentriakontan, sitosterol. Herminia de Guzman Ladion, pakar kesehatan dari Filipina, memasukkan kangkung dalam kelompok ââ'¬Å"tanaman penyembuh ajaibââ'¬â"¢. Dinegara itu, tanaman ini dipakai untuk menyembuhkansembelit dan obat bagi mereka yang sedang melakukan diet. Akar kangkung juga berguna untuk mengobati penyakit wasir. Manfaat Lain Kangkung antara lain:Mengurangi haid, Mimisan, Sakit kepala, Ambeien, Insomnia, Sakit gigi,Melancarkan air seni, Ketombe, Sembelit, mual bagi ibu hamil, Gusi bengkak, Kapalan, Kulit gatal karena eksim, Digigit lipan
http://images.sudarjanto.multiply.com/attachment/0/Rxh@fwoKCq0AAHhiJx41/Kangkung%20Si%20Pengusir%20Racun.pdf?nmid=62572131
http://id.wikipedia.org/wiki/Kangkung



Tokoh

Sir Alexander Fleming, Penemu Penisilin

Antibiotik, seperti yang kita ketahui saat ini ternyata berasal dari bakteri yang dilemahkan. Tidak ada yang menduga bahwa bakteri lemah tersebut mampu membunuh bakteri lain yang berkembang dalam tubuh makhluk hidup. Antibiotik (antibiotika) adalah zat yang dihasilkan oleh mikroba terutama jamur, yang dapat menghambat pertumbuhan ataupun membunuh mikroba lain. Penisilin menjadi antibiotika pertama pada zaman dulu di kawasan Britania raya sejak ditemukan oleh seorang dokter bergelar kebangsaan “Sir”, suatu gelar terhormat bagi negarawan disana.
>
Terlahir di Lochfield, Skotlandia, 6 Agustus 1881, Sir Alexander Fleming (1881-1955) menemukan Penisilin, sejenis bakteri yang berfungsi melawan bakteri berbahaya yang terdapat di dalam tubuh manusia. Pasien pertama yang pernah merasakan khasiat temuan Fleming adalah mantan perdana menteri Inggris, Winston Churchill.

Fleming menyelesaikan sekolahnya di Louden Moor School, Darvel School, dan Akademi Kilmarnock sebelum akhirnya pindah untuk meneruskan kuliahnya di Politeknik. Dia sempat bekerja di kantor pelayaran sebelum masuk ke Fakultas Kedokteran St. Mary’s, Universitas London. Bersama pembimbingnya di St. Mary’s, Sir Almroth Wright, Fleming mulai melakukan penelitian di tahun 1906. Pada tahun 1914 Fleming berhasil menamatkan gelar sarjananya di kampus St. Mary’s.

Di tahun 1928, Fleming menekuni bidang kedokteran. Ia melakukan penelitian pada gerakan alami bakteri dalam darah dan antiseptik. Kerja keras Fleming terlihat semakin sibuk melakukan penelitian terhadap kerja substansi antibakteri. Hingga suatu hari ia menemukan substansi bakteri yang ia teliti ternyata tidak dapat meracuni jaringan hewan.

Sebutan “penisilin” juga dapat digunakan untuk menyebut anggota spesifik dari kelompok penisilin. Penisilin dianggap sebagai produk antibiotik yang cukup aman dibandingkan obat sejenisnya. Bila obat antibiotik lainnya menimbulkan efek samping, seperti alergi, maka penisilin dapat menjadi rujukan terakhir untuk mengobati pasien yang mengalaminya.



Dua kali untuk W. Churchill

Apa yang diperjuangkan Fleming semasa hidupnya membawa mukjizat meskipun lahir dari keluarga petani. Sewaktu masih muda ia pernah menolong seorang anak yang sakin kegirangannya berenang di sebuah kolam nan jernih yang hampir saja tenggelam. Ternyata anak kecil itu adalah Winston Churchill yang kelak menjadi perdana menteri Inggris. Karena pertolongan Fleming, ayah Churchill membalas budi dengan menyekolahkan Fleming sampai kuliah di kedokteran St. Mary’s.

Kedermawanan ayah Churchill sebagai “upah pertolongan” Fleming terhadapWinston Churchill terus berlanjut. Pada bulan Desember 1943, saat itu Winston Churchill yang sudah menjabat perdana menteri Inggris sedang sakit parah karena pneumonia di suatu tempat di Afrika Utara. Si penemu ‘peluru ajaib’ langsung bergegas menemui dan mengobati perdana menteri yang sedang sakit keras tersebut. Artinya, Fleming untuk kedua kalinya menyelamatkan nyawa orang yang sama: Winston Churchill.

Fleming yang sudah bergelar sarjana menemukan jaringan dan sekresi pada tahun itu. Ia menyebutnya lyzozyme – subtansi penting dalam bakteri. Secara tidak sengaja saat meneliti virus flu, dia menemukan bercak pada lempengan Staphylococcus membentuk lingkaran “anti bakteri” di sekeliling virus itu. Hal itulah yang mengilhami Fleming untuk meneliti lebih lanjut bahwa substansi itu mencegah pertumbuhan Staphylococci, walaupun diencerkan 800 kali. Akhirnya Fleming menyebut substansi aktif itu sebagai penisilin. Sakin efektifnya, penisilin dikembangkan hingga menghasilkan terobosan baru dengan hadirnya produk antibiotik yang menyeimbangi penisilin. Hasil penemuannya semakin berguna saat perang dunia I berlangsung. Tentara yang terlibat perang terluka karena terjangkit bakteri yang kemudian diberikan antibiotik.

Tekad Fleming sungguh besar untuk menjadi dokter hingga penemuannya dihargai Nobel Perdamaian bidang fisiologi (kedokteran) pada tahun 1945. Selain gelar Nobel, pada tahun yang sama ia terpilih sebagai anggota the Pontifical Academy of Science, dan anggota kehormatan hampir semua komunitas kedokteran maupun perkumpulan ilmuwan. Gelar demi gelar ia raih karena baktinya bagi dunia kesehatan.

Pada tanggal 11 Maret 1955 Fleming meninggal pada usia 73 tahun karena serangan jantung. Namun, peluru ajaib yang pernah ia temukan hingga kini masih ampuh bagi kalangan medis di seluruh dunia. Menurut penelitian, penisilin dapat digunakan secara klinik untuk pengobatan difteria, antraks, gonore, bahkan sifilis!.

Sabtu, 21 Maret 2009

info kesehatan

Penyakit Tangan & Mulut


Penyakit tangan dan mulut adalah disebabkan Virus Coxsackie A16, iaitu dari kalangan jenis enterovirus. Ia tidak berjangkit melalui hewan tetapi disebarkan antara semasa manusia. Seseorang boleh dijangkiti sekiranya bersentuhan dengan cecair hidung, kerongkong, air liur atau najis seseorang lain yang dijangkiti.
Jangka masa antara jangkitan dan kewujudan simptom-simptom ialah antara 3 hingga 7 hari. Faktor utama jangkitan ialah umur. Kanak-kanak berumur di bawah 10 tahun adalah paling kerap dijangkiti dan hanya sedikit kes berlaku di kalangan orang dewasa.
Antara simptom-simptom penyakit ini ialah demam, sakit kepala, hilang selera makan, berlaku kegatalan seperti ruam di di tangan, kaki dan di kawasan genital, sakit tekak serta ulser di bahagian tekak, mulut dan lidah.
Bagi penyakit ini, tiada rawatan sesuai untuk jangkitan kecuali rawatan terhadap simptom yang berlaku. Rawatan dengan antibiotik sahaja tidak berkesan. Penggunaan ubat seperti Acetaminophen sebagai ganti Aspirin perlu untuk mengatasi demam. Kanak-kanak yang dijangkiti perlu dipastikan cecair dalam badan mencukupi. Penggunaan cecair seperti susu sangat bersesuaian menggantikan jus atau minuman lain yang mungkin tidak sesuai bagi kanak-kanak menghidap ulser dalam mulut.
sumber: http://ms.shvoong.com/medicine-and-health/epidemiology-public-health/1828977-penyakit-tangan-mulut/